Japanese Culture

The Kind and Description of Culture in Japan. Click for More

History of China

The History of China Dynasties. Click for More

Tiongkok / China Culture

The Kind and Description of Culture in China. Click for More

Indonesia Culture

The Kind and Description of Culture in Indonesia. Click for More

History of Indonesia

The History of Indonesia From The Netherland Until Japan Colonialism. Click for More

Kamis, 21 Januari 2016

Sejarah Dinasti Shang

Dinasti Shāng (商) (1600—1046 SM) adalah dinasti yang mengantikan Dinasti Xià dalam sejarah Tiongkok. Sekitar tahun 1600 SM, Dinasti Shāng didirikan oleh pemimpin suku Shāng, Tāng (汤/湯) setelah memusnahkan Dinasti Xià. Dinasti Shāng melewati masa pemerintahan sebanyak 17 generasi, 31 raja. Berkuasa selama 500-an tahun, sampai 20 Januari 1046 SM ditaklukkan oleh Zhōu Wǔwáng (周武王).


Ringkasan Sejarah 

Akhir dari pemerintahan Dinasti Xià 夏, kekacauan dalam pemerintahan Dinasti Xià 夏 sendiri tidak pernah terkendali, ganguan dan serangan dari luar juga tidak pernah berhenti, setelah naik takhta, Jié 桀 juga tidak berusaha mengubah kondisi, malahan semakin lalim dan kejam, sehingga para bangsawan akhirnya mulai memberontak. Pada sekitar tahun 1600 SM, pemimpin dari suku Shāng 商, Tāng 汤/湯 bergabung dengan suku bangsa lainnya mengulingkan Dinasti Xià 夏, dan mendirikan Dinasti Shāng 商. Pada awalnya suku Shāng 商 ber-ibukota di Bò 亳 (sekarang Shāngqiū 商丘 Provinsi Hénán 河南), setelah mengalahkan Dinasti Xià 夏, memindahkan ibukota ke barat dan tetap disebut dengan nama Bò 亳 (sekarang Yǎnshī 偃师 Provinsi Hénán 河南).

Setelah naik takhta, Tāng 汤/湯 memerintah dengan bijaksana terhadap rakyatnya, dengan bantuan dari menteri-menteri berbakat seperti Yīyǐn 伊尹 dan Zhòngyuán 仲虺, negara semakin kuat dan makmur. Setelah Tāng 汤/湯 meninggal, oleh karena putra sulungnya Dàdīng 大丁 mati muda, maka singgasana diwariskan kepada adik Dàdīng 大丁, Wàibǐng 外丙; setelah Wàibǐng 外丙 meninggal, digantikan oleh adiknya Zhòngrén 仲壬; dan setelah Zhòngrén 仲壬 meninggal, singgasana diwariskan kembali kepada putra dari Dàdīng 大丁, Tàijiǎ 太甲. Tahun ketiga pemerintahan Tàijiǎ 太甲, oleh karena memerintah dengan tidak benar dan tidak bermoral, Tàijiǎ 太甲 diasingkan oleh Yīyǐn 伊尹 ke istana Tónggōng 桐宫. Setelah tiga tahun tinggal di istana Tónggōng 桐宫, Tàijiǎ 太甲 merasa sangat menyesal, sehingga akhirnya Yīyǐn 伊尹 menjemput dan menyerahkan kembali kekuasaan kepadanya.

Pada mulanya, Dinasti Shāng 商 beberapa kali memindahkan ibukota-nya, sampai terakhir pada masa pemerintahan Pángēng 盘庚/盤庚, menetapkan ibukota di Yīn 殷 (sekarang Ānyáng 安阳/安陽 Provinsi Hénán 河南), sehingga Dinasti Shāng 商 sering juga disebut sebagai Dinasti Yīn殷. Setelah Pángēng 盘庚/盤庚 memindahkan ibukota ke Yīn 殷, ekonomi masyarakat Dinasti Shāng 商 mengalami perkembangan lebih maju lagi. Sampai kemudian masa pemerintahan Wǔdīng 武丁, Dinasti Shāng 商 melakukan banyak serangan ekpansi, menaklukkan banyak negara kecil disekitarnya, memperluas wilayah teritorialnya, sehingga Dinasti Shāng 商 mencapai puncak kejayaannya.

Setelah Wǔdīng 武丁 meninggal, Dinasti Shāng 商 mulai mundur dan melemah. Raja terakhir Dinasti Shāng 商, Dìxīn 帝辛 atau Zhòuwáng 纣王/紂王 berhasil memajukan hubungan perekonomian dan kebudayaan dengan membuka hubungan dengan Cina bagian tenggara, perairan Sungai Huáihé 淮河 dan Chángjiāng 长江/長江; tetapi karena selalu terlibat dalam peperangan dan membangun istana dalam skala besar, yang sangat menguras dan menghabiskan sumber daya manusia maupun kekayaan rakyat, sehingga menimbulkan kekecewaan dalam hati rakyat. Zhōu Wǔwáng 周武王 mengerahkan 300 kereta perang, 3000 pasukan serangan depan, 4500 prajurit, dan bergabung dengan suku Qiāng 羌、Máo 茅/髳、Lú 卢/盧 dan sebagainya, serentak menyerang Zhòuwáng 纣王/紂王, dan berhasil menyerang sampai ibukota Dinasti Shāng 商, Cháogē 朝歌 (sekarang Kabupaten Qíxiàn 淇县, Kota Hèbì 鹤壁, Provinsi Hénán 河南).

Pada saat itu pasukan Shāng 商 sedang berperang melawan suku bangsa kecil di timur laut, sehingga terpaksa memakai budak dan prajurit tahanan untuk menghadapi perang di daerah Mùyě 牧野, 70 lǐ 里 (satuan jarak) dari Cháogē 朝歌. Para budak tidak ingin berperang untuk raja Shāng Zhòuwáng 商纣王/商紂王 yang jahat dan lalim, sehingga pada saat-saat kritis, pasukan Shāng 商 tiba-tiba memutar arah, menyerang pasukan sendiri. Ternyata pasukan yang membelot adalah budak-budak dan prajurit tahanan yang sudah lama membenci Shāng Zhòuwáng 商纣王/商紂王. Pasukan Shāng 商 menjadi kacau dan dengan mudah dihancurkan.

Setelah Pertempuran Mùyě 牧野, Shāng Zhòuwáng 商纣王/商紂王 yang sadar akan kekalahannya, tidak ingin pasukan Zhōu 周 merebut dan memiliki istana dan hartanya, ia memerintahkan bawahannya untuk mengumpulkan semua harta istana, dan membungkus diri dengan kain, berbaring diatas semua barang berharga tersebut, dengan api, membakar dan menghabisi hidupnya yang penuh dosa. Zhōu Wǔwáng 周武王 atas dukungan dari berbagai suku bangsa dan negara kecil, mendirikan Dinasti Zhōu 周, dinasti masyarakat budak ketiga di Tiongkok. Setelah Dinasti Shāng 商 roboh, sisa keluarga penguasa Dinasti Shāng 商 yang selamat secara bersama menganti marga mereka dari Zǐ 子 menjadi nama dinasti mereka yang telah jatuh, Yīn 殷.

Keluarga kerajaan yang selamat kemudian menjadi aristokrat dan sering membantu keperluan administrasi untuk pemerintah Dinasti Zhōu 周. Zhōu Chéngwáng 周成王 melalui mangkubuminya, yang merupakan pamannya sendiri, Zhōu Gōngdàn 周公旦, menganugerahkan kepada saudara Shāng Zhòuwáng 商纣王/商紂王, Wéizǐ 微子 daerah bekas ibukota lama Dinasti Shāng商dan sekitarnya menjadi negara Sòng 宋. Negara Sòng 宋 dan keturunan Dinasti Shāng 商 masih meneruskan ritual kepada raja-raja Dinasti Shāng 商 yang meninggal dan bertahan sampai tahun 286sm.

Antara legenda Korea and Cina menyatakan bahwa salah seorang pangeran Dinasti Shāng 商 yang tidak puas, bernama Jīzǐ 箕子 (Kija), menolak menyerahkan kekuasaannya kepada Dinasti Zhōu 周, memilih meninggalkan Cina dengan sisa tentaranya dan mendirikan Gija Joseon dekat Pyongyang sekarang yang menjadi salah satu dari awal negara Korea (Go-, Gija-, dan Wiman-Joseon). Meskipun demikian Jīzǐ 箕子jarang sekali disebut dalam sejarah, dan ada yang menganggap cerita kepergiannya ke Joseon hanyalah mistik.


Wilayah Kekuasaan

Daerah kekuasaan Dinasti Shāng 商; timur mencapai lautan, barat mencapai bagian barat provinsi Shǎnxī 陕西/陝西, timur laut mencapai provinsi Liáoníng 辽宁/遼寧, selatan hingga sekitar Jiāngnán江南 (tidak termasuk Provinsi Sìchuān 四川、Yúnnán 云南/雲南、Guìzhōu 贵州/貴州 dan daerah sekitar barat daya), dan merupakan salah satu kerajaan terbesar di dunia pada waktu itu, tetapi daerah pemerintahan utama masih di sekitar Zhōngyuán 中原. Mendirikan ibukota di Bò 亳 (sekarang Kabupaten Cáoxiàn 曹县/曹縣 Provinsi Shāndōng 山东/山東), dan beberapa kali pindah ibukota, terakhir Pángēng 盘庚/盤庚 memindahkan ibukota ke Yīn 殷 (sekarang Desa Xiǎotúncūn 小屯村, Ānyáng 安阳/安陽 Provinsi Hénán 河南), dan oleh karena itu, maka Dinasti Shāng 商 sering juga disebut sebagai Dinasti Yīn 殷.

Pemerintahan Dinasti

Dinasti Shāng 商 menetapkan beberapa struktur kenegaraan yang lebih sempurna. Pemerintah pusat membentuk dua departemen penting yaitu departemen sekretariat urusan negara dan departemen tata hukum negara. Daerah-daerah diserahkan kepada para bangsawan, guna memperkuat pemeritahan didaerah, dan masih banyak pejabat dan pengawal istana. Sedangkan kekuasaan militer dan peralatan perang tetap ditangan keluarga kerajaan langsung, para negarawan juga menetapkan Xíngfá 刑罚/刑罰 (hukuman) dan Jiānyù 监狱/監獄 (penjara) yang sangat kejam. Selain itu, juga menggunakan kepercayaan agama untuk memperkokoh kekuasaan pemerintah, raja Dinasti Shāng 商 bahkan menyebut diri sendiri sebagai wakil dari Tuhan didunia ini, mengabungkan kekuasaan ketuhanan dan kekuasaan kerajaan.

Kondisi Ekonomi

Pertanian Dinasti Shāng 商 sudah lebih maju, sudah bisa menggunakan berbagai jenis tanaman untuk diciptakan menjadi arak, sudah sanggup menciptakan peralatan perunggu yang lebih rapi dan bagus serta sudah bisa membuat keramik putih atau porselin. Oleh karena sangat berkembangnya pertukaran barang, sehingga telah muncul kota pada awal peradaban manusia, dan merupakan kerajaan yang sangat makmur pada waktu itu. Oleh karena perdagangan Dinasti Shāng 商 sangat maju, hubungan dagang dengan negara disekitarnya juga sangat banyak, sebutan pedagang dalam bahasa Cina, Shāngrén 商人 (pedagang), adalah berasal dari sebutan orang-orang di negara sekitarnya terhadap orang dari Dinasti Shāng 商. Pertanian adalah bagian paling penting dalam bidang ekonomi, tanah pertanian lebih tertata dan teratur, jenis pertanian juga lebih banyak. Usaha pertenunan juga mengalami perkembangan ; peternakan sangat makmur, selain enam jenis ternak utama, juga berhasil memelihara ternak gajah.

Kebudayaan dan ilmu pengetahuan

Pada zaman Dinasti Shāng 商, mulai dikembangkan kemampuan kerajinan besi, kerajinan keramik dan porselin, perdagangan juga sangat pesat. Dari hasil penemuan tulang ramalan (Jiǎgúwén 甲骨文) membuktikan perkembangan tulisan pada masa Dinasti Shāng 商 sudah mengalami suatu masa perkembangan yang cukup lama. Astrologi dan tata hukum lebih maju dari zaman Dinasti Xià夏, banyak penemuan baru dari ilmu perbintangan, seperti ditemukannya planet Mars dan planet Venus, selain itu, juga terdapat catatan tertulis tentang ilmu matematika dan medis, serta perkembangan seni musik juga sudah sangat tinggi, muncul banyak alat musik dan seni tari; seperti Diāosù 雕塑 yang merupakan salah satu seni paling terkenal pada masyarakat perbudakan Dinasti Shāng 商.


Para Penguasa Dinasti Shang

Gelar kuil Gelar anumerta Nama lengkap ‎Shiji ‎Jiaguwen Periode
Shang Gaozuyi Raja Taiwu Zi Lu Tang Dayi 1600SM—1589SM
Raja Ai Zi Sheng Waibing Bubing 1588SM—1587SM
Raja Yi Zi Yong Zhongren 1586SM—1583SM
Shang Taizong Raja Wen Zi Zhi Taijia Dajia 1582SM—1571SM
Raja Zhao Zi Xuan Woding 1570SM—1542SM
Raja Xuan Zi Bian Taigeng Dageng 1541SM—1517SM
Raja Jing Zi Gao Xiaojia 1516SM—1500SM
Raja Yuan Zi Mi Yongji 1499SM—1487SM
Shang Zhongzong Raja Jing Zi Zhou Taiwu Dawu 1486SM—1422SM
Raja Xiaocheng Zi Zhuang Zhongding Zhongding 1421SM—1401SM
Raja Si Zi Fa Wairen Buren 1400SM—1386SM
Raja Ping Awal Zi Zheng Hedanjia Jianjia 1385SM—1377SM
Raja Mu Zi Teng Zuyi Qieyi 1376SM—1358SM
Raja Huan Zi Dan Zuxin Qiexin 1357SM—1342SM
Raja Xi Zi Yu Wo Jia Qiangjia 1341SM—1337SM
Raja Zhuang Zi Xin Zuding Qieding 1336SM—1328SM
Raja Qing Zi Geng Nangeng 1327SM—1322SM
Raja Dao Zi He Yangjia Xiangjia 1321SM—1315SM
Shang Shizu Raja Wencheng Zi Xun Pangeng Bangeng 1314SM—1287SM
Raja Zhang Zi Song Xiaoxin 1286SM—1252SM
Raja Hui Zi Lian Xiaoyi 1251SM
Shang Gaozong Raja Xiang Zi Zhao Wuding 1250SM—1192SM
Raja Ping Akhir Zi Yue Zugeng Qiegeng 1191SM—1148SM
Shang Shizong Raja Ding Zi Zai Zujia Qiejia 1148SM
Shang Jiazong Raja Gong Zi Xian Linxin 1148SM
Shang Kangzu Raja An Zi Xiao Gengding Kangding 1148SM
Shang Wuzu Raja Lie Zi Qu Wuyi 1147SM—1113SM
Raja Kuang Zi Tuo Taiding Wending 1112SM—1102SM
Raja De Zi Xian Kaisar Yi 1101SM—1076SM
Raja Zhou Zi Shou Raja Zhou Dinasti Shang ( Kaisar Xin ) 1075SM—1046SM.‎

Sejarah Dinasti Xia

Dinasti Xià (Hanzi: 夏 Indonesia: Sia) merupakan dinasti pertama yang tercatat dalam buku sejarah Cina. Catatan sejarah paling awal ditemukan dalam buku sejarah Shàngshū yang mengatakan bahwa Dinasti Xià memiliki puluhan ribu negara upeti, sehingga secara umum menganggap Dinasti Xià adalah sebuah negara yang terbentuk dari gabungan berbagai suku bangsa, dan para sejarawan dari aliran ajaran Marxisme di Tiongkok daratan menetapkan Dinasti Xià sebagai sebuah negara budak.


Menurut catatan buku sejarah, Dinasti Xià adalah negara yang didirikan oleh putra dari Yǔ yaitu Qǐ. Yǔ mewariskan singgasana kepada anaknya Qǐ, yang menganti cara terdahulu,Chánràngzhìdù (mewariskan singgasana kepada orang bijaksana atau yang berkemampuan - Bahasa Inggris en:Elective Law) menjadi Shìxízhì (mewariskan singgasana dari ayah kepada anak atau kepada orang yang mempunyai hubungan darah atau keluarga dekat. Dinasti Xià secara keseluruhan diwariskan sebanyak 13 generasi, 16 raja (atau 14 generasi, 17 raja, tergantung perbedaan pendapat tentang Yǔ dianggap sebagai raja Dinasti Xià atau pemimpin gabungan suku), sekitar 400 tahun, yang kemudian dimusnahkan olehDinasti Shang.

Xià dalam Literatur sejarah 

Menurut cataran literatur kuno Cina, sebelum berdirinya Dinasti Xià, sering terjadi perang untuk memperebutkan kekuasaan sebagai pemimpin dari gabungan suku antara suku Xiàdengan suku-suku di sekitarnya. Suku Xià mulai berkembang sekitar zaman Kaisar Zhuanxupada zaman legenda Cina kuno. Banyak catatan literatur Cina kuno mencatat keberadaan suku Xià pada masa Kaisar Zhuānxù. Di antaranya Shiji, Xiàběnjì dan Dàdàilǐjì Dìxìmengatakan Yǔ adalah cucu dari Zhuānxù, tetapi ada catatan literatur lain yang mengatakan Yǔ adalah cucu generasi ke-5 dari Zhuānxù. Dari catatan-catatan literatur tersebut menunjukkan bahwa suku Xià kemungkinan besar adalah salah satu dari keturunan Zhuānxù.

Gǔn

Dalam catatan literatur Cina kuno, Gǔn adalah salah satu tokoh suku Xià yang paling awal terdapat catatannya. Dalam Guóyǔ Zhōuyǔ diceritakan bahwa Gǔn sebagai pemimpin dari suku Xià dianugerahkan daerah Chóng, dan digelar sebagai Chóngbó Gǔn. Kemudian Yǔ mengantikan Gǔn sebagai Chóngbó Yǔ. Ini membuktikan bahwa suku Xià awalnya aktif di sekitar daerah Chóng. Pada waktu itu Huánghé (Sungai Kuning) meluap. Untuk menghadapi banjir, banyak suku membentuk gabungan suku untuk menghadapi banjir, dan Gǔn dipilih oleh Sìyuè (Empat Prefektur) menjadi pemimpin dari pekerjaan mengendalikan banjir tersebut. Gǔn mengendalikan banjir selama 9 tahun tetapi akhirnya dinyatakan gagal. Penyebab dari kegagalan Gǔn kemungkinan besar karena dia kurang mampu mempersatukan orang dari berbagai suku. Menurut catatan Shàngshū Yáodiǎn, pada mulanya Yao oleh karena sifat Gǔn yang suka saling menyalahkan dan membeda-bedakan suku, tidak setuju mengangkat Gǔn sebagai pemimpin dari pekerjaan mengendalikan banjir. Diduga bahwa pada waktu Gǔn menjabat sebagai pemimpin dari pekerjaan pengendalian banjir, sudah banyak suku yang tidak puas dengannya. Dalam Shàngshū Hóngfàn danGuóyǔ Lǔyǔ terdapat catatan tentang Gǔnzhànghóngshuǐ, yang menceritakan bahwa cara Gǔn mengendalikan banjir adalah dengan menggunakan tanah dan kayu untuk membendung air, yang akhirnya gagal, dan ini juga mungkin merupakan salah satu dari kegagalan Gǔn dalam mengendalikan banjir selama 9 tahun. Pada akhirnya, setelah Gǔn gagal dalam mengendalikan banjir, dia dihukum mati di Yǔshān (Gunung Yu).

Yu

Yǔ adalah putra dari Gǔn. Yǔ bukan hanya tidak menunjukkan rasa dendam, malahan tetap menghormati Shun, dan mendapatkan kepercayaan dari Shùn. Shùn menyerahkan tugas mengendalikan banjir kepada Yǔ. Yǔ memperbaiki cara ayahnya mengendalikan banjir, secara besar mempersatukan orang dari berbagai suku, sehingga akhirnya berhasil mengendalikan banjir. Dalam catatan Shǐjì Xiàběnjì tercatat waktu Yǔ mengendalikan banjir, bekerja keras, tiga kali melewati pintu rumahnya tetapi tidak pernah masuk – dengan alasan reuni dengan keluarga akan menghabiskan banyak waktu dan pikiran dari tugasnya mengendalikan banjir. Kegigihan dan ketekunannya dalam melaksanakan tugas mendapat penghargaan dari banyak kalangan, dan ini mungkin juga merupakan salah satu faktor dari bersatu berbagai suku.

Oleh karena Yǔ berhasil mengendalikan banjir dan mengembangkan pertanian, sehingga kekuatan suku Xià menjadi kuat, menjadi pemimpin dari gabungan berbagai suku. Kemudian Shùn mengutus Yǔ untuk menyerang suku Sānmiáo. Yǔ mengusir suku Sānmiáo kedaerah perairan Dānjiāng dan Hànshuǐ, berhasil mengkokohkan kekuatan kerajaan. Dalam Mòzǐ Fēigōng diceritakan bahwa setelah Yǔ berhasil menaklukkan suku Sānmiáo, suku Xià sudah menjadi suku yang sangat penting diperairan Huánghé pada waktu itu. Shùn mewariskan singgasana kepada Yǔ, Yǔ pernah mengadakan pertemuan persekutuan antar suku diTúshān (Gunung Du), dan sekali lagi menyerang suku Sānmiáo (pada waktu itu suku diZhōngyuán (pusat daratan Tiongkok) sering berperang dengan suku Sānmiáo). DalamZuǒzhuàn (walau mungkin terlalu dibesar-besarkan) dikatakan terdapat puluhan ribu negara upeti menghadiri pertemuan persekutuan di Túshān, dengan demikian boleh diperkirakan betapa besarnya pengaruh suku Xià pada waktu itu. Pada suatu pertemuan antar suku diHuìjī, pemimpin suku Fángfēngshì, waktu pertemuan datang terlambat dan dihukum mati oleh Yǔ. Ini membuktikan bahwa suku Xià pada awal pengukuhan kekuasaannya telah muncul sifat monarki atas kekuasaan. Menyusul dengan semakin kuatnya kekuasaan gabungan suku bangsa dengan suku Xià yang merupakan keturunan dari suku Húangdìsebagai inti kekuatan, hubungan ekonomi berbagai daerah juga semakin kuat. Dalam catatan sejarah kuno sering terdapat catatan tentang Yǔ menentukan pembayaran upeti sesuai dengan jarak negara-negara upetinya, ini juga membuktikan pengendalian ekonomi suku Xià terhadap suku-suku lain disekitarnya.

Dalam catatan literatur kuno juga sering diceritakan nafsu Yǔ atas kekuasaan pada usia tuanya. Walaupun Yǔ ingin mempertahankan kekuasaan pemerintahan dalam suku Xià sendiri, tetapi tetap harus mempertimbangkan tradisi Chánràng, sehingga ia menerapkan suatu siasat yang efektif. Yǔ pada mulanya mengangkat Gāotáo dari suku Yǒuyǎnshì yang memiliki reputasi tinggi sebagai ahli warisnya, guna menunjukkan penghargaan Yǔ terhadap tradisi Chánràng. Tetapi Gāotáo lebih tua dari Yǔ, sehingga belum sempat mewarisi singgasana sudah meninggal. Kemudian Yǔ memilih Yì dari suku Dōngyí yang tidak begitu berpengaruh menjadi ahli waris. Pada waktu itu banyak suku yang tidak mendukung Yì, dan malahan mendukung putra dari Yǔ, Qǐ. Yǔ berharap jika kelak Yì tidak mendapat dukungan dari masyarakat, maka akan mewariskan singgasana kepada putranya Qǐ.

Qi

Setelah Yǔ meninggal, Yì sama sekali tidak mendapatkan kedudukannya, malahan dengan dukungan masyarakat, Qǐ mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin (tetapi menurutZhúshūjìnián, Yì sebenarnya sempat naik takhta, namun kemudian Qǐ membunuh Yì dan merebut kekuasaan). Sehingga Yì memimpin pasukan gabungan dengan suku Dōngyímenyerang Qǐ. Setelah melalui perang selama beberapa tahun, akhirnya Yì dibunuh oleh Qǐ, sehingga Qǐ berhasil naik takhta sebagai raja. Dan ini oleh kebanyakkan sejarawan dianggap sebagai awal dari dinasti pertama di Tiongkok yang menerapkan cara Shìxízhì (Putra tertua merupakan ahli waris Kekan) - Dinasti Xià. Kemudian juga terdapat banyak suku yang masih menganut cara Chánràng (bawahan terkuat menjadi penerus kekuasaan) tidak puas dengan kekuasaan Qǐ. Pemimpin dari suku Yǒuhùshì yang tinggal disekitar daerah sekarangGuānzhōng provinsi Shǎnxī, memimpin pasukan gabungannya menyerang Qǐ, dan di daerah Gān (sekarang selatan dari Hùxiàn provinsi Shaanxi) melakukan pertempuran sengit. Sebelum perang, Qǐ menyebut kedudukan kekuasaannya sebagai Gōngxíngtiān(melaksanakan mandat langit), yang juga merupakan dasar dari terbentuknnya Tiānzǐlùn(teori putra langit). Qǐ memiliki dukungan dari masyarakat di Zhōngyuán, dalam hal jumlah pasukan jauh lebih unggul, sehingga akhirnya berhasil mengalahkan Yǒuhùshì. Kemenangan kedua dari Qǐ membuktikan bahwa prinsip dalam masyarakat di Zhōngyuán telah berubah dari tradisi Chánràngzhì menjadi Shìxízhì.

Suku Xià pada mulanya bermarga Sì, tetapi mulai dari Qǐ diubah menjadi Xià sesuai dengan nama kerajaannya. Dan pada waktu yang bersamaan, Qǐ tidak lagi menggunakan Bósebagai gelar kebesaran dan diganti menjadi Hòu, dengan gelar Xiàhòu Qǐ.

Selama masa pemerintahan Qǐ, putranya Wǔguān sering melakukan pemberontakan.Hánfēizǐ Shuōyí mengatakan Wǔguān adalah seorang yang Hàiguóshāngmínbàifǎ(merugikan negara, menyakiti rakyat, merusak hukum), sehingga akhirnya dibunuh. Selain kekacauan dalam suku Xià sendiri, guna untuk memperkuat kekuasaan gabungan antar suku bangsa disekitarnya, suku Xià juga sering melakukan peperangan dengan suku Dōngyí.

Tàikāng Kehilangan Kerajaan

Setelah Qǐ meninggal, putranya Tàikāng meneruskan singgasana. Tàikāng hanya tahu hidup foya-foya, tidak mengurusi pemerintahan, selama masa pemerintahannya, kekuatan suku Xià menjadi lemah, sehingga suku Tàihào dan Shǎohào dari Dōngyí mengambil kesempatan menyerang ke barat. Pemimpin suku Dōngyí merupakan seorang jagoan memanah yang bernama Yì. Dalam catatan Lǚshìchūnqiū Wùgōng menganggap bahwa busur panah adalah diciptakan oleh Yì. Yì memimpin pasukan Dōngyí pindah kedaerah milik Yǒuxiàshì, Qióngshí(sekarang selatan Luoyang, provinsi Hénán), dan melakukan perkawinan dengan orang setempat, menjalin hubungan yang baik, dan membentuk suku Yǒuqióngshì. Yì dengan dukungan dari rakyat Xià berhasil mendapatkan kekuasaan atas pemerintahan Dinasti Xià. Sedangkan Tàikāng melarikan diri kebawah naungan Zhēnxúnshì.

Yì setelah mendapat kekuasaan tidak mengangkat diri sendiri sebagai raja, tetapi mengangkat adik dari Tàikāng, Zhòngkāng sebagai raja. Tetapi sebenarnya seluruh kekuasaan dan keputusan berada ditangan Yì. Hal ini menimbulkan rasa tidak puas dari banyak suku lainnya. Diantaranya Yǒuhéshì dan Yǒuxīshì yang bertanggung jawab atas astronomi secara terang-terangan menentang. Yì dengan alasan merusak tata astronomi dan sia-sia pada jabatannya, mengerahkan pasukan menyerang mereka dan mendapatkan kemenangan.

Setelah Zhòngkāng meninggal, anaknya Xiàng mengantikannya. Tidak lama kemudian Xiàng lari kebawah naungan Zhēnxúnshì dan Zhēnguànshì yang mendukung Dinasti Xià. Akhirnya Yì menjadi penguasa tunggal Dinasti Xià. Tetapi setelah mendapat kekuasaan, Yì sama seperti dengan Tàikāng, tidak lagi mengurusi urusan negara, setiap hari pergi berburu. Ia memecat menteri-menteri setia seperti Wǔluó , Bókùn, Lóngyǔ, dan malahan memakaiHánzhuó yang diusir dari suku Bómíngshì. Hánzhuó mengumpulkan komplotannya, sehingga kekuasaannya semakin besar. Sampai suatu hari, ia mengambil kesempatan waktu Yì pergi berburu, membunuh Yì dan seluruh keluarganya. Setelah merampas kekuasaan dari Yì. Hánzhuó menganugerahkan daerah Gē kepada putranya Yì, dan menganugerahkan daerah Liáo kepada putranya yang lain, Jiāo. Jiāo memimpin pasukannya memusnahkan Zhēnxúnshì dan Zhēnguànshì yang mendukung Dinasti Xià, membunuh Xiàng yang bersembunyi di Zhēnxún. Istri Xiang, Mín pada waktu itu telah hamil, dari lubang tembok, ia berhasil melarikan diri dari serangan Jiāo, dan bersembunyi di rumah ibunya di suku Yǒuréngshì, dan tidak lama kemudian melahirkan Shǎokāng (Tàikāng, Zhòngkāng, dan Shǎokāng sama bernama Kāng, agar tidak membingungkan, mulai ditambahkan tanda generasi - yaitu nama tengah - di depan namanya).

Masa kejayaan Shǎokāng

Shǎokāng setelah dewasa, bekerja sebagai pengurus peternakan suku Yǒuréngshì, akibatnya ketahuan oleh Jiāo tempat keberadaannya. Jiāo mengutus orang ke suku Yǒuréngshì untuk membunuhnya, Shǎokāng terpaksa lari dan bersembunyi di sukuYǒuyúshì (keturunan dari Shùn). Pemimpin dari Yǒuyúshì pada waktu itu tidak ada anak laki-laki, hanya ada dua anak perempuan, sehingga sangat sayang kepada Shǎokāng. Ia menghadiahkan daerah Lúnyì kepada Shǎokāng, sehingga Shǎokāng dapat memakai Lúnyì sebagai markasnya, membentuk pasukannya sendiri. Ia mulai mengumpulkan sisa-sisa pasukan Dinasti Xià, dan membagikan tugas masing-masing. Ia menempatkan mata-mata di pasukan Jiāo, untuk persiapan merebut kembali kekuasaan Dinasti Xià. Pada saat itu, bekas menteri Dinasti Xià, Mǐ yang bersembunyi di suku Yǒugéshì - setelah mendengar kabar bahwa Shǎokāng ingin merebut kembali kekuasaan Dinasti Xià - memimpin sisa pasukan suku Zhēnguànshì dan Zhēnxúnshì bergabung dengan Shǎokāng dan mengalahkan pengkhianat Hánzhuó lalu mengangkat Shǎokāng sebagai raja Dinasti Xià. Shǎokāng juga berhasil memusnahkan Jiāo (putra Hánzhuó) di daerah Guò, dan mengutus putranya Zhù memusnahkan Yì (kakak Jiāo) di daerah Gē, sehingga suku Yǒuqióngshì dari kaum Dōngyíyang menguasai Zhōngyuán sebanyak 3 generasi dan ratusan tahun akhirnya musnah. Shǎokāng berhasil merebut kembali kekuasaan Dinasti Xià, yang dalam sejarah disebut sebagai Shǎokāngzhōngxìng (masa kejayaan Shǎokāng). Dari Tàikāng kehilangan kekuasaan sampai Shǎokāngzhōngxìng menunjukkan keberhasilan suku Huáxiàmenaklukkan suku-suku disekitar Zhōngyuán (terutama suku Dōngyí).

Pertengahan Periode

Putra Shǎokāng, Zhù mengantikan kedudukan raja. Ia mengerti ketidak puasan suku Yí di timur terhadap Dinasti Xià, untuk memperkokoh kekuasaan di timur, ia memindahkan ibukota dari Yuán (sekarang Jǐyuán, provinsi Hénán) ke Lǎoqiū (sekarang utara dari Kāifēngxiàn, provinsi Hénán). Ia berkonsentrasi mengembangkan peralatan perang dan perlengkapan prajurit. Ia juga mengutus orang untuk menyerang suku Yí di daerah pesisir pantai timur (sekarang bagian barat provinsi Shāndōng, bagian timur provinsi Ānhuī dan sekitar provinsi Jiāngsū). Pada waktu itu, ia juga mendapatkan barang keramat, Jiǔwěihú (serigala sembilan ekor - Jepang: Bijuu). Wilayah Dinasti Xià juga pada masa pemerintahan Zhù meluas sampai kedaerah pesisir Dōnghǎi (sekarang Huánghǎi). Selama masa pemerintahan Zhù, boleh dikatakan merupakan masa paling makmur dan maju dari Dinasti Xià. Orang Xià juga sangat menghargai dan menghormati Zhù. Menurut catatan Guóyǔ Lǔyǔ menganggap Zhù secara keseluruhan mewarisi karier dari Yǔ.

Pada masa pemerintahan putra dari Zhù, Huái, suku Dōngyí dan suku Huáxià hidup dalam damai. Sembilan suku Yí (Jiǔyí): Quǎnyí, Yúyí, Fāngyí, Huángyí, Báiyí, Chìyí, Xuányí, Fēngyí, dan Yángyí yang tinggal di daerah perairan Huáihé (Sungai Huai) dan Sìshuǐ sering datang menyembah dan menyerahkan upeti. Setelah Huái meninggal, digantikan oleh putranya Máng. Setelah Máng meninggal, digantikan oleh putranya Xiè. Selama periode ini, hubungan antara suku Dōngyí dan suku Huáxià terus berkembang. Pada masa pemerintahan Xiè, suku Dōngyí pada umumnya sudah membaur dengan suku Huáxià, maka ia mengalihkan perhatiannya ke barat. Dan pada waktu itu, ia mulai melakukan anugerah tempat dan gelar kepada negara-negara upeti. Dan ini merupakan permulaan dari Zhūhóuzhì(sistem feodal) Cina beberapa abad kemudian. Setelah Xiè meninggal, putranya Bùjiàngmengantikan. Bùjiàng sempat beberapa kali memimpin pasukannya menyerang Jiǔyuàn di barat.

Akhir Periode 

Setelah Bùjiàng meninggal, adiknya Jiōng mengantikannya. Setelah Jiōng meninggal, putranya Jìn mengantikannya. Jìn naik takhta tidak lama, meninggal karena sakit, kemenakannya, putra dari Bùjiàng, Kǒngjiǎ yang naik takhta. Ia mengubah tradisi Dinasti Xià yang sembahyang terhadap leluhur, mulai menitik-beratkan sembahyang kepada langit. Dalam Shǐjì Xiàběnjì dikatakan Kǒngjiǎ adalah seorang yang Hàofāngguǐshén (suka meniru dewa dan hantu), Shìyínluàn (urusan negara menjadi kacau). Banyak suku dan negara upeti mulai tidak puas dengan pemerintahan Dinasti Xià, tetapi hubungan antara suku Dōngyí dan suku Huáxià masih baik. Ini mungkin karena pembauran antara suku Dōngyí dan suku Huáxià udah sangat tinggi. Setelah Kǒngjiǎ meninggal, digantikan oleh putranya Gāo. Setelah Gāo meninggal, digantikan oleh putranya Fā. Pada periode ini, hubungan antara Dinasti Xià dengan suku dan negara upetinya memburuk, keributan dalam istana kerajaan juga semakin parah. Mulai dari masa pemerintahan Kǒngjiǎ sampai Lǚgǔi (Xià Jié), gejolak dalam kerajaan sendiri tidak pernah berhenti.

Jie

Setelah Fā meninggal, putranya Jié mengantikannya. Selama masa pemerintahan Jié, hubungan antara suku dan negara upeti dengan Dinasti Xià sudah retak. Suku dan negara yang membayar upeti kepada Dinasti Xià semakin berkurang sehingga Jié sering menyerang suku dan negara upeti yang tidak taat kepada Dinasti Xià. Dalam catatan literatur kuno dikatakan bahwa Jié sangat hidung belang, setiap kali setelah mengalahkan suatu suku, pasti memilih perempuan dari suku tersebut yang ia sukai, kemudian dibawa pulang ke istana untuk dijadikan selir. Guóyǔ Jínyǔ mencatatkan suku Yǒushīshì, Zhúshūjìnián mencatatkan suku Mínshānshì dan Mòxǐshì, semua pernah mengalami nasib yang sama. Di antaranya selir dari Mòxǐshì terlebih dahulu sudah terikat perkawinan dengan Yīyǐn, tetapi dirampas oleh Jié di Luó, sehingga Yīyǐn dalam amarahnya pergi bergabung dengan Shāng Tāng. Serangan-serangan yang dilakukan oleh Jié juga membuat marah beberapa suku yang cukup kuat dan berpengaruh. Suku Yǒumínshì (keturunan Shùn) oleh karena tidak menuruti kemauan Jié sehingga dimusnahkan. Suku Shāng bermarga Zǐ yang aktif di daerah barat daya provinsi Shāndōng, pada waktu Dinasti Xià yang sedang mengalami kekacauan mulai berkembang dan maju. Jié juga dengan alasan suku Shāng tidak patuh, menyerang dan mengalahkan pemimpin suku Shāng yang bernama Tāng. Tāng dipenjarakan di Xiàtái(ada yang mengatakan Diàotái), kemudian dilepas. Selain hubungan luar Dinasti Xià yang semakin memburuk, dalam catatan literatur juga diceritakan Jié salah memakai orang dalam pemerintahannya.

Jié hanya tahu berfoya-foya untuk diri sendiri, tidak memedulikan penderitaan rakyat. Sekitar akhir abad ke 17 SM, pemimpin dari suku Shāng, Tāng memimpin pasukan gabungan dari berbagai suku dan negara upeti menyerang Jié dan memusnahkan suku-suku yang membela Dinasti Xià: Wéi, Gù, Kūn, Wú, dan terakhir di Cānghuáng berperang dengan Jié. Kekuatan Tāng sangat besar, Jié tidak sanggup bertahan sambil melarikan diri dan berperang. Akhirnya ia akalah di daerah suku Yǒusōngshì. Jié lari ke Míngtiáo (sekarang pertengahan provinsi Hénán - versi lain mengatakan sekarang merupakan Ānyi, provinsi Shanxi) dan dikejar oleh Tāng. Perang besar-besaran terjadi di Míngtiáo. Sekali lagi Jié mengalami kekalahan, dan diasingkan oleh Tāng ke Lìshān - Gunung Li (ada yang mengatakan Géshān - Gunung Ke), tinggal bersama Mòxǐshì. Akhirnya Jié melarikan diri keNáncháo(sekarang Cháoxiàn, provinsi Anhui) dan meninggal di sana.

Setelah Pertempuran Míngtiáo, Dinasti Xià digulingkan, dan atas dukungan dari suku-suku dan negara upeti, di Háo mengelar diri sebagai Wáng (raja). Dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok dengan kekuasaan Shìxízhì, Dinasti Xià, yang diwariskan sebanyak 13 generasi (buku sejarah Shìběn mencatat 12 generasi), 16 raja, selama 471 tahun (menurutZhúshūjìnián), pada akhir abad ke-17 SM, awal abad ke-16 SM musnah.

Keturunan

Setelah Dinasti Xià musnah, sisa keturunannya masih bermukim di Zhōngyuán. Ada dua kelompok masing-masing pindah ke selatan dan utara. Jié membawa banyak keturunan Dinasti Xià dari Lìshān pindah ke Náncháo di selatan, ini adalah kelompok selatan. Kelompok utara masuk ke dataran Mongol, dan berbaur dengan masyarakat setempat, dan inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan suku Xiōngnú. Dalam Shǐjì Xiōngnúlièzhuàntercatat "Xiōngnú, leluhurnya adalah keturunan dari raja Xià (yaitu Yǒuxiàshì)". Kuòdìpǔsecara lebih jelas menyatakan "Putranya (yang dimaksud putra dari Jié), Xūnzhōu (atau Xūnyù) mengawini selir dari Jié, pindah ke padang luar di utara, hidup beternak dan berpindah-pindah (yang dimaksud adalah kaum suku pengembala di padang rumput utara) yang oleh orang Cina disebut sebagai Xiōngnú".

Wilayah kekuasaan

Wilayah kekuasaan Dinasti Xià dari barat mulai dari barat provinsi Hénán dan selatanprovinsi Shānxī; timur sampai perbatasan tiga provinsi Hénán, Shandong dan Héběi; selatan mulai dari provinsi Húběi, utara sampai provinsi Héběi. Pada waktu itu kekuasaan Dinasti Xià merambah sampai bagian selatan dan utara Huánghé (Sungai Huang), sampai perairan Chángjiāng (Sungai Jang). Ibukota Dinasti Xià antara lain: Yángchéng (sekarang timur dariDēngfēng, provinsi Henan), Zhuóxín (sekarang barat laut Dēngfēng, provinsi Hénán), Ānyi (sekarang barat laut Xiàxiàn, provinsi Shānxī).

Struktur negara Dinasti Xià adalah berasal dari gabungan suku, dengan ciri-ciri seperti:

Wilayah yang diperintah langsung oleh negara adalah wilayah dalam suku sendiri. Di luar wilayah suku Xià sendiri, pemimpin dari suku lain diatas wilayah sendiri, memiliki kekuasaan pemerintahan yang mandiri; terhadap raja Dinasti Xià, mereka hanya bernaung di bawah kerajaan dan membayar upeti, sebagai tanda saling menghormati.

Dalam struktur kekuasaan dan pemerintahan, ada dua cara, yaitu monarki dan demokrasi, dimana struktur pemerintahan negara mengutamakan demokrasi suku dari pada monarki raja.

Daftar penguasa dinasti

Nama anumerta (Shi Hao 諡號)

Urutan Lama memerintah. ‎Tionghoa Hanyu Pinyin

01 45 juga dipanggil (大禹; dà yǔ)
02 10  
03 29 太康 Tài Kāng  
04 13 仲康 Zhòng Kāng  
05 28 Xiāng  
06 21 少康 Shǎo Kāng  
07 17 Zhù  
08 26 Huái  
09 18 Máng  
10 16 Xiè  
11 59 不降 Bù Jiàng  
12 21 Jiōng  
13 21 Jǐn Guoyu: jìn, putonghua: jǐn
14 31 孔甲 Kǒng Jiǎ  
15 11 Gāo  
16 11  
17 52 Jié juga Lu Gui (履癸 lǚ guǐ)

Sejarah Dinasti Zhou

Dinasti Zhou (Hanzi: 周朝, hanyu pinyin: Zhou Chao) (1066 SM - 221 SM) adalah dinasti terakhir sebelum Cina resmi disatukan di bawah Dinasti Qin. Dinasti Zhou adalah dinasti yang bertahan paling lama dibandingkan dengan dinasti lainnya dalam sejarah Tiongkok, dan penggunaan besi mulai diperkenalkan di Tiongkok mulai zaman ini.


Sejarah

Mandat langit
Sesuai tradisi feodal Cina, para penguasa Zhou mengantikan Dinasti Shang (Yin) dan mengesahkan aturan yang menetapkan mereka sebagai mandat langit, dimana para penguasa memerintah atas mandat dari langit. Bila mandat dari langit dicabut, rakyat berhak menggulingkan penguasa tadi. Perintah langit ditetapkan oleh asumsi nenek moyang Zhou, Tian-Huang-Shangdi, berada di atas nenek moyang Shang,Shangdi. Doktrin ini menjelaskan dan membenarkan kekalahan Dinasti Xia dan Shang, dan pada waktu yang sama mendukung hak kekuasaan para penguasa sekarang dan masa depan.

Bangsawan keluarga Ji

Dinasti Zhou didirikan oleh keluarga Ji (姬) beribukota di Hao (鎬, sekarang di sekitarXi'an), meneruskan corak budaya dan bahasa dari dinasti sebelumnya, ekspansi Zhou pada awalnya adalah melalui penaklukan. Secara berangsur-angsur Zhou memperluas budaya Shang sampai ke wilayah utara Sungai Panjang.

Pada awalnya keluarga Ji mengendalikan negara Zhou secara terpusat. Pada tahun771 SM, setelah Raja You (周幽王) menggantikan ratunya dengan Selir Baosi, ibukota diserang oleh kekuatan gabungan dari ayah ratu, pangeran Shen yang bersekutu dengan suku-suku asing. Kemudian, putra sang ratu, Ji Yijiu (姬宜臼) dinaikkan menduduki tahta sebagai raja baru oleh para bangsawan dari negara Zheng, Lü, Qin dan pangeran Shen. Ibukota negara kemudian terpaksa dipindahkan ke sebelah timur pada tahun 722 SM, tepatnya ke Luoyang di propinsiHenan sekarang.

Pembagian Dinasti Zhou Barat dan Zhou Timur

Oleh karena pemindahan ibukota ini, para sejarahwan kemudian membagi Dinasti Zhou menjadi Dinasti Zhou Barat (西周) dari akhir abad ke-10 SM sampai dengan tahun 771 SM, serta Dinasti Zhou Timur (東周) dari tahun 770 SM sampai dengan tahun 221 SM. Tahun permulaan Zhou Barat tetap masih dalam perdebatan, antara – tahun 1122 SM, tahun 1027 SM atau tahun lain dalam ratusan tahun dari akhir abad ke-12 SM. Pada umumnya, sejarawan Cina menetapkan tahun 841 SM sebagai tahun awal mula dari tahun pemerintahan Dinasti Zhou dalam sejarah Tiongkok.

Dan berdasarkan sejarahwan Cina terkenal, Sima Qian di dalam karya tulisnyaCatatan Sejarah Agung, Zhou Timur dibagi lagi dalam dua zaman yaitu Zaman Musim Semi dan Gugur dan Zaman Negara-negara Berperang.

Kemunduran

Setelah perpecahan di pusat kekuasaan, pemerintah Zhou makin lemah dalam menjalankan pemerintahan. Setelah Raja Ping (周平王), raja-raja Zhou yang kemudian berkuasa tidak memiliki kekuasaan yang nyata karena kekuasaan sebenarnya ada di tangan para bangsawan yang kuat. Mendekati penghujung Dinasti Zhou, para bangsawan tidak meletakkan lagi eksistensi keluarga Ji sebagai simbol pemersatu kerajaan dan masing-masing mengangkat diri mereka sendiri sebagai raja. Dinasti Zhou pecah menjadi beberapa negara kecil-kecil yang bertempur satu sama lainnya. Zaman ini kemudian terkenal sebagai Zaman Negara-negara Berperang, di mana kemudian diakhiri dengan penyatuan Cina di bawah Dinasti Qin.

Pertanian

Pertanian di Dinasti Zhou sangat intensif dan dalam banyak kesempatan diarahkan langsung oleh pemerintah. Semua tanah pertanian dimiliki oleh para bangsawan, yang kemudian memberikan tanah mereka kepada budak mereka. Sebagai contoh, suatu lahan dibagi menjadi sembilan bujur sangkar dalam ukuran jing (巾), dengan hasil gandum dari pertengahan bujur sangkar diambil oleh pemerintah dan sisanya disimpan oleh petani. Dengan cara ini, pemerintah bisa menyimpan surplus makanan dan mendistribusikan kembali pada waktu kelaparan atau panen tidak baik. Beberapa sektor manufactur penting selama periode ini termasuk kerajinan perunggu, yang di integralkan dalam pembuatan senjata dan perkakas pertanian. Sekali lagi, industri ini dikuasai oleh bangsawan yang mengarahkan material produksi.

Daftar Raja Dinasti Zhou

Penguasa Dinasti Zhou masih bergelar raja(王), dikarenakan gelar kaisar (皇帝) baru diperkenalkan pada zaman Dinasti Qin. Di bawah adalah tabel daftar raja-raja penguasa Dinasti Zhou Barat dan Timur.

Nama pribadi Gelar Masa berkuasa1 Sebutan populer
Ji Fa
姬發 Wuwang
武王 1046 SM-1043 SM1 Zhou Wuwang
(Raja Wu dari Zhou)
Ji Song
姬誦 Chengwang
成王 1042 SM-1021 SM1 Zhou Chengwang
(Raja Cheng dari Zhou)
Ji Zhao
姬釗 Kangwang
康王 1020 SM-996 SM1 Zhou Kangwang
(Raja Kang dari Zhou)
Ji Xia
姬瑕 Zhaowang
昭王 995 SM-977 SM1 Zhou Zhaowang
(Raja Zhao dari Zhou)
Ji Man
姬滿 Muwang
穆王 976 SM-922 SM1 Zhou Muwang
(Raja Mu dari Zhou)
Ji Yihu
姬繄扈 Gongwang
共王 922 SM-900 SM1 Zhou Gongwang
(Raja Gong dari Zhou)
Ji Jian
姬? Yiwang
懿王 899 SM-892 SM1 Zhou Yiwang
(Raja Yi dari Zhou)
Ji Pifang
姬辟方 Xiaowang
孝王 891 SM-886 SM1 Zhou Xiaowang
(Raja Xiao dari Zhou)
Ji Xie
姬燮 Yiwang
夷王 885 SM-878 SM1 Zhou Yiwang
(Raja Yi dari Zhou)
Ji Hu
姬胡 Liwang
厲王 877 SM-841 SM1 Zhou Liwang
(Raja Li dari Zhou)
  Gonghe (masa transisi)
共和 841 SM-828 SM Kabupaten Gonghe
Ji Jing
姬靜 Xuanwang
宣王 827 SM-782 SM Zhou Xuanwang
(Raja Xuan dari Zhou)
Ji Gongsheng
姬宮湦 Youwang
幽王 781 SM-771 SM Zhou Youwang
(Raja You dari Zhou)

Berakhirnya Dinasti Zhou Barat / Dimulainya Dinasti Zhou Timur

Ji Yijiu
姬宜臼 Pingwang
平王 770 SM-720 SM Zhou Pingwang
(Raja Ping dari Zhou)
Ji Lin
姬林 Huanwang
桓王 719 SM-697 SM Zhou Huanwang
(Raja Huan dari Zhou)
Ji Tuo
姬佗 Zhuangwang
莊王 696 SM-682 SM Zhou Zhuangwang
(Raja Zhuang dari Zhou)
Ji Huqi
姬胡齊 Xiwang
釐王 681 SM-677 SM Zhou Xiwang
(Raja Xi dari Zhou)
Ji Lang
姬閬 Huiwang
惠王 676 SM-652 SM Zhou Huiwang
(Raja Hui dari Zhou)
Ji Zheng
姬鄭 Xiangwang
襄王 651 SM-619 SM Zhou Xiangwang
(Raja Xiang dari Zhou)
Ji Renchen
姬壬臣 Qingwang
頃王 618 SM-613 SM Zhou Qingwang
(Raja Qing dari Zhou)
Ji Ban
姬班 Kuangwang
匡王 612 SM-607 SM Zhou Kuangwang
(Raja Kuang dari Zhou)
Ji Yu
姬瑜 Dingwang
定王 606 SM-586 SM Zhou Dingwang
(Raja Ding dari Zhou)
Ji Yi
姬夷 Jianwang
簡王 585 SM-572 SM Zhou Jianwang
(Raja Jian dari Zhou)
Ji Xiexin
姬泄心 Lingwang
靈王 571 SM-545 SM Zhou Lingwang
(Raja Ling dari Zhou)
Ji Gui
姬貴 Jingwang
景王 544 SM-521 SM Zhou Jingwang
(Raja Jing dari Zhou)
Ji Meng
姬猛 Daowang
悼王 520 SM Zhou Daowang
(Raja Dao dari Zhou)
Ji Gai
姬丐 Jingwang
敬王 519 SM-476 SM Zhou Jingwang
(Raja Jing dari Zhou)
Ji Ren
姬仁 Yuanwang
元王 475 SM-469 SM Zhou Yuanwang
(Raja Yuan dari Zhou)
Ji Jie
姬介 Zhendingwang
貞定王 468 SM-442 SM Zhou Zhendingwang
(Raja Zhending dari Zhou)
Ji Quji
姬去疾 Aiwang
哀王 441 SM Zhou Aiwang
(Raja Ai dari Zhou)
Ji Shu
姬叔 Siwang
思王 441 SM Zhou Siwang
(Raja Si dari Zhou)
Ji Wei
姬嵬 Kaowang
考王 440 SM-426 SM Zhou Kaowang
(Raja Kao dari Zhou)
Ji Wu
姬午 Weiliewang
威烈王 425 SM-402 SM Zhou Weiliewang
(Raja Weilie dari Zhou)
Ji Jiao
姬驕 Anwang
安王 401 SM-376 SM Zhou Anwang
(Raja An dari Zhou)
Ji Xi
姬喜 Liewang
烈王 375 SM-369 SM Zhou Liewang
(Raja Lie dari Zhou)
Ji Bian
姬扁 Xianwang
顯王 368 SM-321 SM Zhou Xianwang
(Raja Xian dari Zhou)
Ji Ding
姬定 Shenjingwang
慎靚王 320 SM-315 SM Zhou Shenjingwang
(Raja Shenjing dari Zhou)
Ji Yan
姬延 Nanwang
赧王 314 SM-256 SM Zhou Nanwang
(Raja Nan dari Zhou)
  Huiwang
惠王 255 SM-249 SM Zhou Huiwang2‎
(Raja Hui dari Eastern Zhou)
1 Masa permulaan Dinasti Zhou yang diterima secara luas pertama kalinya adalah pada tahun 841 SM, di masa pemerintahan transisi Gonghe. Data masa berkuasa di dalam tabel ini bersumber dari Projek Kronologi Xia-Shang-Zhou yang dispensori oleh pemerintahan RRT yang dipublikasi pada tahun 2000.
2 Keluarga bangsawan keluarga Ji mendudukkan Raja Hui sebagai pengganti Raja Nan setelah ibukota Luo Yang ditaklukkan oleh pasukan Qin pada tahun 256 SM. Raja Nan secara umum dipandang sebagai penguasa terakhir Dinasti Zhou.‎

Sejarah Dinasti Qin

Zaman Musim Semi, dan Gugur (Hanzi: 春秋時代, hanyu pinyin: chunqiu shidai,bahasa Inggris: Spring and Autumn Period) (770 SM - 476 SM) adalah sebuah zaman dalam penghujung Dinasti Zhou di Cina. Zaman Musim Semi, dan Gugur mendapat namanya karena nama sebuah buku terkenal dari zaman itu Chun Qiu yang artinya "Musim Semi dan Gugur".


Permulaan

Zaman Musim Semi, dan Musim Guguradalah sebuah kitab klasik Cina yang ditulis oleh Nabi Konfusius (Kong Hu Cu) yang masuk dalam kumpulan Kitab Suci Yang Lima (Wu Jing) bagi umat Ru dunia, dan terjadi pada masa Dinasti Zhou pada tahun 722 SM - 481 SM. Roman klasik ini juga biasa disebut Zaman Lima Raja Besar Chun Qiu, karena pada masa itu terdapat 5 raja besar yang saling mencari pengaruh, dan kekuatan, walaupun masih terdapat banyak negeri-negeri, dan bangsa-bangsa kecil (sekitar 40-an) yang pada akhirnya satu persatu ditaklukkan atau ditarik kesalah satu pihak yang kuat, kelima raja negeri besar itu adalah Adipati Huan dari Qi (齐桓公), Adipati Wen dari Jin (晋文公),Raja Zhuang dari Chu (楚庄王), Adipati Mu dari Qin (秦穆公), dan Adipati Xiang dari Song (宋襄公). Pada umumnya mereka masih mengakui kerajaan Zhou, tetapi beberapa ada yang sudah tidak mengirimkan upeti.

Perseteruan Qi dan Chu

Dari lima negeri tersebut, negeri Qi dannegeri Chu adalah yang terkuat, dan ditakuti. Negeri Qi menguasai negeri-negeri kecil dibagian utara, dan negeri Chumenguasai negeri-negeri dibagian selatan. Cara penguasaan negeri Qi, dan Chu berbeda, negeri Qi menggunakan cara memberikan bantuan kepada negeri-negeri kecil lain seperti menyelesaikan politik dalam negeri orang lain ataupun mencegah negeri lain dari serangan musuh negeri itu, dan kemudian membuat perserikatan dengan menggunakan sistem "menjunjung Dewan Kerajaan Zhou" (pada puncaknya, perserikatan ini terdiri dari gabungan lebih dari 10 negeri) ,sedangkan negeri Chu menggunakan cara memberi terror, dan ketakutan melalui kekuatan pasukannya yang membuat negeri-negeri kecil gentar, ngeri, dan akhirnya takluk. Persaingan Qi - Chu semakin memuncak ketika kerjaan Zhou yang sebelumnya memihak negeri Qi kemudian berpindah pihak ke negeri Chu karena hasutan permaisuri kerajaan Zhou. Kerajaan Zhou juga mengajak beberapa negeri yang sebelumnya memihak negeri Qi untuk bergabung dengan negeri Chu, seperti negara The yang mempunyai letak wilayah di antara negeri Qi, dan Chu.

Kematian Adipati Huan membuat negeri Qi menjadi lemah

Ketika kematian Adipati Huan dari Qi, kemudian negeri Qi menjadi lemah, juga terjadi perebuatan kekuasaan, dan negeri Song ingin merebut menjadi ketua raja-raja muda menggantikan negeri Qi, tapi gagal karena negeri-negeri kecil masih mendukung negeri Chu. Pada akhirnya, negeri Chu karena sogokan negeri Zheng kemudian menyerang negeri Song, kemudian negeri Song meminta bantuan kepada negeri Qin yang saat itu menjadi negeri yang sangat kuat setelah terjadi pergantian Kaisar. Negeri Qin bergabung dengan ketiga negari besar lainnya (Qi,Jin,Song) dan mengalahkan Chu.

Negeri Qin mengangkat diri menjadi Ketua perserikatan

Setelah memukul mundur negeri Chu. Raja dari negeri Qin mengumpulkan negeri Qi,Jin,Song, dan 7 negeri-negeri kecil berkumpul di Kerajaan Zhou dengan maksud mengangkat dirinya menjadi pengganti raja Huan sebagai Ketua dariperserikatan raja-raja. Saat itu negeri Zheng tidak hadir dalam pertemuan dikerajaan Zhou, sehingga raja Qin marah, dan bersama-sama negeri Jin menyerang negeri Zheng. Zheng meminta bantuan kepada negeri Chu tetapi karena baru kalah perang, negeri Chu tidak mengirim pasukan bantuan. Akhirnya negeri Zheng menggunakan taktik adu domba dengan mengirimkan surat kepada negeri Jin bahwa negeri Jin, dan negeri Qin sekarang ini sama kuatnya, karena negeri Zheng dekat dengan negeri Qin, maka Zheng akan menjadi milik Qi, dan negeri Qi akan menjadi lebih besar, dan kuat, yang kemudian suatu waktu akan menyerang negeri Jin. Raja negeri Jin yang berhasil dihasut kemudian menarik pasukan kembali ke negerinya. Pada saat itu, negeri Chu mengirimkan surat perdamaian dengan negeri Qin. Setelah perdamaian antara 2 negeri paling besar pada saat itu yaitu Chu, dan Qin, perang-perang berikutnya tidak lagi dianggap dalam skala besar. Peperangan berlanjut sampai kepada masa "Zaman Negara-Negara Berperang"

Tokoh - Tokoh

Adipati Huan dari Qi, Raja Muda yang paling besar pengaruhnya pada zaman ini dibanding Raja-raja muda lain. Dia berhasil menjadi ketua perserikatan raja-raja muda
Guan Zhong '', penasehat militer negeri Qi
Baili Xi , perdana menteri negeri Qin


Dinasti Qin (Hanzi: 秦朝, hanyu pinyin: Qin Chao) (221 SM - 206 SM) adalah satu dari tiga dinasti yang paling berpengaruh diTiongkok sepanjang sejarahnya. Dinasti Qin terkenal sebagai dinasti yang pendek umurnya, namun meletakkan dasar-dasar kekaisaran yang kemudian akan diteruskan selama 2000 tahun oleh dinasti-dinasti setelahnya. Dinasti ini juga adalah dinasti pertama yang mempersatukan suku bangsa beragam di Tiongkok ke dalam entitas tunggal nasional Cina.

Karena lemahnya kemiliteran, dinasti ini tidak bertahan lama. Setelah kematian kaisar yang pertama di 210 SM, puteranya digantikan oleh dua penasihat kerajaan sebelumnya, yang mengatur semua masalah administrasi di wilayah dinasti. Keduanya bertengkar, dan menyebabkan kematian keduanya dan kematian darikaisar kedua Dinasti Qin. Pemberontakan muncul, dan kepemimpinan yang lemah ini dilimpahkan kepada Letnan Chu, yang akhirnya mendirikan Dinasti Han. Meski terjadi keahkiran yang cepat, dinasti ini telah membawa pengaruh besar untuk dinasti-dinasti berikutnya, dan nama Chinadari Eropa diyakini diambil dari dinasti ini.

Kronologi sejarah

Penghujung Dinasti Zhou
Dinasti Qin berawal dari kerajaan Qin yang dikuasai bangsawan bermarga Ying pada masa Dinasti Zhou. Leluhur marga Ying,Bo Yi diceritakan pernah berjasa membantu Yu untuk meredakan banjir. Untuk itu, Kaisar Shun kemudian menganugrahkan marga Ying kepada Bo Yi.

Salah satu keturunan Bo Yi kemudian mengabdi kepada Raja Xiao dari Dinasti Zhou. Berjasa untuk memelihara kuda kerajaan, Raja Xiao lalu memberikan wilayah di Lembah Qin (sekarang di sekitar ‎Tianshui, Gansu) untuk keturunan Bo Yi tadi. Dari sinilah kerajaan Qin bermula.

Tahun 770 SM, Xiang dari Qin berjasa di dalam mengawal Raja Ping dari Dinasti Zhou dan mendapat gelar bangsawan. Kerajaan Qin terbentuk dan kemudian menguasai wilayah Dinasti Zhou di sekitarShaanxi. Masa ini disebut sebagai Zaman Negara-negara Berperang karena puluhan negara besar-kecil saling bermusuhan dan kerap berperang untuk merebut wilayah dan pengaruh kekuasaan. Tahun 221 SM,Raja Yingzheng (yang kemudian dikenal sebagai Qín Shǐ Huáng atau Qin Shihuang) dari Qin melakukan agresi militer terhadap kerajaan lainnya di Dinasti Zhou dan mempersatukan Cina di bawah satu pemerintahan terpusat.

Penyatuan daratan Tiongkok

Artikel utama Penaklukan enam negara oleh Negara Qin

230 SM: Penaklukan kerajaan Han
228 SM: Menyerang kerajaan Zhao
227 SM: Menyerang kerajaan Yan
225 SM: Penaklukan kerajaan Wei
224 SM: Penaklukan kerajaan Chu
222 SM: Penaklukan kerajaan Zhao dan Yan
221 SM: Penaklukan kerajaan Qi, mempersatukan Cina

Memusatkan kekuasaan

Ying Zheng setelah mempersatukan Cina kemudian menciptakan gelar Huangdi yang merupakan gabungan dari Huang (皇) dan Di (帝). Ia merasa ia lebih berjasa daripadaTiga Penguasa (三皇) dan Lima Kaisar (五帝) dari Tiongkok kuno. Huangdi sendiri secara harfiah berarti penguasa dan kaisar tak tertandingi. Ia kemudian digelari sebagai Shi Huangdi, yang bermakna ‎Kaisar Pertama.

Ia kemudian menetapkan beberapa kebijakan pemerintahan yang memusatkan kekuasaan lebih lanjut di tangan kaisar. Kaisar mempunyai kekuasaan absolut, para menteri mempunyai hak untuk memberikan pandangan dan nasihat dalam penetapan kebijakan pemerintahan namun tidak punya hak untuk memutuskan kebijakan. Pemerintahan pusat dijalankan oleh 3 menteri utama dan 9 menteri biasa. Menteri utama terdiri dari perdana menteridan 2 wakil perdana menteri. Perdana menteri menjalankan pemerintahan, sedangkan 2 wakil perdana menteri masing-masing bertugas sebagai pelaksana militer dan pemeriksa (kontrol pemerintahan).

Menyatukan unit satuan

Di masa ini juga, berbagai aspek kehidupan seperti satuan berat, panjang, unit mata uang, aksara diseragamkan. Bahkan jarak antara sumbu roda kereta kuda disamakan untuk memudahkan pembangunan jalan antar prefektur. Qin Shihuang juga memerintahkan perbaikan dan pembangunan tembok besar yang sebelumnya telah dibangun pada masa Dinasti Zhou untuk menahan serangan dari bangsa Xiongnu di utara.

Membangun Istana E Fang

Setelah mempersatukan Cina, demi menonjolkan wibawa dan kekuasaannya, Qin Shihuang membangun Istana E Fangdi Gunung Li yang pada saat merupakan istana terbesar dan termegah dalam sejarah Tiongkok.

Du Mu dari Dinasti Tang mengisahkan bahwa istana ini kemudian dibumi-hanguskan oleh Xiang Yu setelah berhasil menggulingkan Dinasti Qin. Namun sebenarnya dalam sejarah resmi, tidak ada catatan mengenai terbakarnya istana ini.

Runtuhnya Dinasti Qin

Sepeninggal Qin Shihuang, Zhao Gao berkomplot bersama Hu Hai dan Li Si memalsukan surat wasiat Qin Shihuang untuk mewariskan tahta kepada Hu Hai serta memerintahkan eksekusi mati atas anak sulungnya, Fu Su. Hu Hai lalu naik tahta dengan gelar Kaisar Qin Kedua.

Hu Hai sendiri adalah seorang kaisar yang lalim dan tidak cakap. Ini menyebabkan ia tak dapat menahan pemberontakan di daerah-daerah. Bulan Juli 209 SM, 2 pejabat kekaisaran, Chen Sheng dan Wu Guang memberontak. Pemberontakan besar-besaran kemudian dipimpin olehXiang Yu dan Liu Bang. Setelah Dinasti Qin runtuh, peperangan pecah antara Liu Bang dan Xiang Yu yang kemudian dimenangkan oleh Liu Bang dan mendirikan Dinasti Han ya‎ng akan berkuasa selama 400 tahun.

Wilayah 

Dinasti Qin mewarisi wilayah Dinasti Zhou sebelumnya ditambah dengan ekspansi wilayah ke wilayah selatan sampai ke tepiLaut Cina Selatan. Di zaman ini, wilayah selatan Cina untuk pertama kalinya dimasukkan sebagai wilayah Cina.

Dinasti Qin menerapkan pembagian wilayah daerah terpusat, yang berbeda dari Dinasti Zhou yang menerapkan sistem feodalisme. Dinasti Qin membagi wilayahnya ke dalam 36 daerah administrasi (prefektur) yang kemudian dibagi-bagi lagi menjadi daerah yang lebih kecil. Di penghujung Dinasti Qin, pemerintah daerah bertambah sampai 46 prefektur.

Umur dinasti Qin ini yang berhasil menyatukan Tiongkok dari perpecahan dan peperangan antar negara sesungguhnya tergolong singkat, yakni hanya dari tahun 221 – 207 SM atau hanya sekitar 14 tahun. Asal mulanya Qin merupakan salah satu dari tujuh negara bagian terkuat pada akhir Dinasti Zhou.Meskipun usianya hanya singkat, namun dinasti ini memiliki beberapa arti penting bagi perkembangan budaya Tionghoa. Untuk memahaminya kita perlu mempelajari secara singkat riwayat pendiri dinasti ini yang bergelar Qin Shihhuangdi.

Kaisar Qin Shihuangdi dilahirkan pada tahun 259 SM dengan nama Ying Zheng. Masa kelahirannya merupakan saat peperangan yang tidak ada putus-putusnya antara negara-negara bagian feodal untukmemperebutkan kekuasaan tertinggi (disebut dengan “Masa Perang Antar Negeri” yang berlangsung dari tahun 475 – 221 SM). Ayahnya adalah Raja Zhuang Xiang dari Kerajaan Qin dan ibunya bernama Zhao Ji yang merupakan bekas selir dari pedagang kaya Lu Buwei. Para kritikus kemudian mengatakan bahwa Zheng sesungguhnya adalah anak dari Lu Buwei, namun sifat-sifat anak tersebut, yakni kemampuannya dalam strategi digabungkan dengan semangat peperangan merupakan ciri khas para penguasa Qin sebelumnya.

Tatkala berusia 13 tahun, ayahnya meninggal dan Zheng dinobatkan sebagai penguasa baru dari Kerajaan Qin. Pada mulanya Lu Buwei dan Ratu Zhao Ji memerintah sebagai wali, namun tatkala keduanya terlibat skandal, jabatan sebagai wali raja itupun dihapuskan dari tangan mereka. Semenjak tahun 238 SM Zheng memerintah sendirian. Kerajaan Qin saat itu menganut ajaran legalisme (Fajia) dari Shang Yang, yang mengatakan bahwa pemerintah harus diperintah dengan keras. Shang Yang mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya jahat dan harus diperintah dengan menggunakan kekerasan. Ia adalah penganut legalisme yang menekankan tentang pelaksanaan hukum dengan tegas sebagai landasan pembangunan negara, tetapi bukan berarti memerintah dengan kekerasan dan penindasan (teror) sehingga rakyat takut. Tegasnya pelaksanaan undang-undang ini tidak pandang bulu, bahkan ada bangsawan juga yang dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku..

Kebijaksanaan yang digariskan oleh Shang Yang untuk negara Qin antara lain:
1. Menghapus gelar bangsawan secara waris, hanya orang yang memiliki jasa dalam perang yang dapat memperoleh gelar bangsawan, anak cucu tidak dapat mewarisinya.
2. Menata administrasi pemerintahan, mengumpulkan kota-kota kecil menjadi 31 kabupaten dan menetapkan pejabat untuk menjalankan kebijakan pemerintah pusat.
3. Melarang terciptanya keluarga besar, yakni bila satu keluarga terdiri dari dua kepala keluarga, maka keluarga itu harus membayar pajak ganda, dengan cara ini mendorong masyarakat berkembang untk mendirikan rumah tangga sendiri setelah berkeluarga dan berkembanglah populasi rakyat.
4. Melaksanakan landreform, bagi rakyat yang membukan lahan diberikan hak milik atas lahan yang dibuka, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat dan pendapatan rakyat bertambah.
5. Otonomi daerah. Membagi penghuni di daerah menjadi kelompok-kelompok dan masing-masing memilih sendiri ketua kelompoknya. 
6. Menetapkan pangkat militer dan hadiah atas jasa mereka, sehingga kemampuan militernya meningkat drastis. 
7. Memberikan hadiah atas hasil pertanian kepada petani yang sukses dalam bercocok tanam dan menghukum mereka yang panennya berkurang. Jadi yang dirangsang adalah kompetisi produksi. (bukankah ini juga berlangsung dalam manajemen modern di negara industri yang maju dewasa ini ? dan bukannya dengan memberikan subsidi)
8. Mendirikan ibukota baru di Xianyang yang lebih strategis secara geografis.
9. Menyatukan segala macam ukuran, antara lain ukuran satuan panjang, ukuran kereta, lebar jalan raya, dan lain sebagainya, agar memiliki standar yang tetap.
10. Menetapkan undang-undang yang adil dan tegas dalam pelaksanaannya, jika putra mahkota melanggar hukum, bukan dia saja yang akan dihukum namun gurunya yang mengajarnya juga harus menerima hukuman. (zaman dulu guru itu menetap di istana dan selalu mendampingi putra mahkota).

Reformasi dari Shang Yang tersebut di terapkan di masa Qin Shiaugong, sebelum masa Qin Shihhuang, bahkan setelah Qin Shiaugong meninggal, Shang Yang dicincang sampai mati oleh para bangsawan yang membencinya karena mereka kehilangan eksklusivitas setelah penerapan sistim ketatanegaraan yang baru. Sepuluh tahun setelah reformasi Shang Yang, Qin dari negara yang lemah tumbuh menjadi negara yang kuat, kira-kira seabad kemudian barulah Zheng lahir, dimana ia telah memiliki modal kuat untukmenyatukan daratan Tiongkok.

Antara tahun 230 – 221 SM, mulailah usaha Zheng untuk menaklukkan seluruh Tiongkok. Pada tahun 221 SM usaha ini berhasil dan ia mendirikan dinasti baru sebagai pengganti Dinasti Zhou serta menggelari dirinya sebagai Qin Shihuangdi, yang berarti “Kaisar Pertama dari Dinasti Qin”. Dia adalah raja pertama yang tidak menobatkan dirinya sebagai raja, melainkan Kaisar. Istilah baru yang dipergunakan untuk menggelari dirinya terdiri dari dua huruf, “huang” dan “di”, yang keduanya sama-sama berarti raja (penggunaan dua kata ganda yang berarti raja ini mengindikasikan bahwa Ying Zheng hendak mengatakan bahwa dirinya lebih dari sekedar raja).

Gelar baru sebagai sebutan bagi kaisar tersebut digunakan hingga dinasti Qing (dinasti terakhir Tiongkok). Keberhasilannya ini menunjukkan kejeniusannya untuk menyatukan Tiongkok dari keterpecah-belahannya menjadi suatu pemerintahan terpusat yang kuat. Untuk memudahkan administrasi pemerintahan, Zheng membagi negerinya menjadi 36 provinsi, yang dihubungkan oleh jalan raya dengan total panjang sebesar 7500 km, dimana ini jauh melebihi prestasi Bangsa Romawi dalam membangun jalan raya.

Pada masa pemerintahnnya Tiongkok juga masih sering mengalami serangan bangsa barbar dari utara. Untuk menangkal hal tersebut Kaisar Qin Shihuangdi memerintahkan pembangunan tembok besar yang kemudian para prakteknya dilakukan dengan penuh kekejaman. Tembok yang membentang sekitar 3000 km ini merupakan satu-satunya bangunan di dunia yang dapat dilihat di bulan dan merupakan salah satu prestasi Bangsa Tionghoa. Kaisar Qin juga melakukan standardisasi huruf dan ukuran yang berlaku di negerinya, sehingga sebagai hasilnya kita pada hari ini hanya mengenal satu sistim penulisan huruf Mandarin. Ini semua dapat dikatakan jasa dari Kaisar Qin Shihuangdi.

Meskipun demikian terlepas dari jasa tersebut, Kaisar Qin Shihuangdi merupakan seorang tiran yang kejam. Salah satu kekejaman yang dilakukannya adalah dengan membakar buku-buku karya para ahli filsafat pada jaman sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah kritik terhadap pemerintahannya. Para sarjana yang menolak untuk menyerahkan kitab-kitab tersebut menjalani hukuman dikubur hidup-hidup. Sedangkan buku2 yang tidak dimusnahkan adalah buku2 pertanian dari Nong Jia (ilmu pertanian), buku2 seni perang dari Bing Jia, buku-buku ramalan , dan buku-buku pengobatan. Yang dimusnahkan terutama adalah buku2 yang bertentangan dengan Aliran Fajia. Tapi buku-buku itu tidak semuanya habis dibakar atau disensor. Buktinya pada masa Dinasti Han masih banyak yang memiliki buku2 yang beraliran Ru Jia (Konfusianisme). Salah satu faktor yang membuat Qin Shihuang marah terhadap penganut Ru Jia adalah ketika Qin Shihuang hendak mengadakan upacara Feng Shan (semacam upacara pengukuhan/legitimasi sebagai kaisar oleh para leluhur) digunung Tai, ternyata penganut Ru Jia tidak tahu bagaimana tata cara upacara Feng Chan itu, bahkan sesama penganut Konfusianisme itu sendiri malah saling bertengkar tentang tata cara Feng Shan , dan kasus ini juga menimpa kaisar Han Wudi.

Pembangunan tembok besar itupun juga menimbulkan banyak korban jiwa. Hal ini terjadi karena buasnya alam dan minimnya prasarana pada masa itu. Bahkan, karena tidak ada waktu untuk mengubur orang yang meninggal, maka mayat-mayat tersebut juga ikut dimasukkan ke dalam tembok besar tersebut.

Karena kekejamannya Dinasti Qin tidak bertahan lama, dan hanya berlangsung selama dua generasi. Kaisar Zheng wafat pada tahun 210 SM saat sedang dalam perjalanan. Seharusnya yang ditunjuk sebagai pengganti adalah putera pertama kaisar yang bernama Fu Su. Namun Li Si, penasehat kaisar memalsukan surat perintah yang isinya memerintahkan agar Fu Su melakukan bunuh diri. Li Si kemudian merekayasa agar putera kedua raja, yang bernama Hu Hai naik tahta dan bergelar Er Shihuangdi (Kaisar Kedua). Pada jamannya terjadi penindasan yang lebih besar terhadap rakyat dengan jalan menaikkan pajak. Para petani yang telah menderita hidupnya di bawah Dinasti Qin melakukan pemberontakan, dimana pemberontakan – pemberontakan ini kemudian semakin meluas bagaikan cendawan di musim hujan.

Sejarahwan terkenal pada jaman Dinasti Han, Tong Zhongshu menyebutkan mengenai jaman sengsara tersebut dengan ungkapan sebagai berikut: “Orang miskin kerapkali memakai pakaian lembu dan kuda serta makan makanan anjing dan babi”.

Salah satu pemberontakan yang paling terkenal dipimpin oleh Liu Bang. Pada tahun 206 SM, pemberontakan ini berhasil dan Ziying, kaisar terakhir Dinasti Qin yang baru memerintah selama 46 harimenyerah pada Liu Bang. Dinasti Qinpun tamat sudah riwayatnya.

Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, arti penting Dinasti Qin bagi kebudayaan Tionghoa adalah penyeragaman tulisan, dimana sebelumnya terdapat beberapa ragam tulisan. Kalau pada masa ini kita hanya menjumpai satu sistim penulisan Bahasa Mandarin, maka ini adalah jasa Kaisar Qin Shihhuangdi. Lebih jauh lagi nama “China”, yakni sebutan Bangsa Barat untuk Tiongkok adalah berasal dari nama dinasti ini.

Catatan tambahan mengenai Kaisar Qin Shihhuangdi

Berikut ini ada catatan tambahan mengenai Kaisar Qin Shihuangdi yang juga menarik untuk disimak. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Qin Shihhuangdi tidak bisa disebut kejam dan lalim, tapi seorangpelaksana yang tegas, taat dan modern. Raja yang terdahulu jika mengusai negara lain, maka raja tersebut akan membagi-bagikan daerah kekuasaan barunya kepada sanak famili dan para bangsawan, namun tidak demikian halnya dengan Qin Shihhuang. Dia menciptakan pemerintahan pusat yang belum ada sebelumnya, membagi negara menjadi propinsi, kabupaten, kecamatan dan kelurahan, pejabat propinsi dan kabupaten ditetapkan oleh pemerintah pusat. Struktur negara juga diringkas menjadi 3 perdana menteri dan 9 menteri, dia mengubah system feodalisme istana menjadi system ketatanegaraan. Untuk hal ini, mungkin dialah penguasa pertama di dunia ini yang menerapkan manajemen modern.

Dia seorang pekerja keras, walaupun telah mengalami berkali-kali penghadangan tapi dia tetap melakukan perjalanan dalam peninjauan dan pengawasan perbangunan negaranya, bahkah dia mati dalam perjalanan tugasnya. Selain membuat terusan yang menghubungkan sungai Huang He, Huai He dan Chang Ciang, dia juga membangun jaringan transportasi seluruh negara dari pusat ibukota danmengagalkan reboisasi. Mengenai korban pembangunan Tembok Besar, tentu bukan suatu kelaliman kaisar, tapi itu adalah salah satu benteng pertahanan strategis secara militer, hanya karena medan yang sangat buruk maka terjadilah banyak korban, kalau dibandingkan dengan para kaisar zaman sebelumnya yang membangun istana dengan memaksa rakyat berbakti denan cuma-cuma yang juga memakan korban banyak, tentu korban dalam pembangunan Tembok Besar lebih memiliki nilai yang lebih tinggi. Dan tembok-tembok itu sebenarnya adalah menyambung tembok-tembok yang telah ada serta membangun tembok-tembok baru. Pada masa itu, keturunan dari para bangsawan dan kerabat raja-raja dari 6 negara yang dikalahkan, terus berusaha membunuh atau menjatuhkan Qin Shihuangdi, selain mencari satria untuk menghadang, mereka juga mendekati para sarjana terutama aliran Konfusianis, para sarjana dan rakyat memang belum terbiasa hidup dalam pola hidup yang disiplin sesuai undang-undang Qin, maka banyak sarjana aliran ini menulis kritikan yang tidak membangun dan mencela kebijaksanaan Qin, mereka menolak penerapan sistim baru yang membongkar habis pola pikir feodal dan menuntut kembali pada pola kekaisaran tempo dulu.

Untuk mengamankan pelaksanaan reformasi, maka para sarjana itu ditangkap dan tulisan-tulisan mereka disita. Buku-buku tradisional yang tidak sesuai dengan kemajuan zaman diperintahkan untuk dibakar oleh pemiliknya. Apabila dalam kurun waktu 60 hari tidak dibakar maka akan dijatuhi hukuman. Empat ratus enam puluh orang sarjana dari aliran Konfusianis terbukti mencela dan menyebarkan kebencian terhadap kaisar, maka mereka dihukum mati dengan jalan dikubur hidup – hidup (hukuman ini tidak hanya dilakukan oleh Qin Shihuang. Namun tidak ada sarjana yang menulis, bahwa raja lainnya juga pernah melakukan kekejaman semacam ini . Hal inu tentunya tidak adil secara sejarah). Tulisan mereka dan buku-buku yang disita dari mereka juga dibakar. Namun buku-buku yang tersimpan di perpustakaan atau karya asli dan aliran-aliran pemikir tidak dibakar, maka catatan sejarah masih utuh hingga kini.

Salah penafsiran atas Qin Shihhuang adalah dikarenakan hukumannya terhadap para sarjana Aliran Konfusianisme, dimana mereka selanjutnya justru mendapatkan tempat pada masa raja-raja berikutnya. Maka tulisan atau tafsiran tentang Qin Shihhuang selalu tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Penulis atau pencatat sejarah kebanyakan sarjana dari aliran tersebut.

Tokoh-tokoh terkenal

Lu Buwei (吕不韦), perdana menteri Qin dan wali Qin Shihuang ketika ia naik tahta dalam usia muda. Orang yang berjasa dalam mendidik Qin Shihuang menjadi seorang kaisar yang bertangan besi. Ada kontroversi mengenai garis keturunan dari Kaisar Qin, bahwa Kaisar Qin adalah anak dari Lu Buwei, dimana Lu Buwei menyerahkan istrinya, Zhao Ji, pemain opera di kota Handan (wilayah kerajaan Zhao) yang sudah hamil, kepada Raja Qin (Ying Yiren/raja sebelum Qin Shi Huang).Pada akhirnya, dia dibunuh secara tidak langsung oleh Qin Shi Huang dengan dipaksa minum anggur beracun.(Kaisar Qin takut Lu Bu Wei direkrut oleh 6 negara lainnya, padahal Bu Wei sendiri sudah memutuskan pensiun.

Li Si (李斯), murid dari Xun Zi, direkrut oleh Lu Buwei sebagai guru untuk Kaisar Qin/Ying Zheng. Orangnya cerdas,namun agak pengecut. Ada suatu peristiwa dimana dia bekerja sama dengan pejabat tertentu untuk membuat surat permohonan pembagian kekuasaan kepada kaisar Qin, namun karena takut dia membuat satu surat lagi yang isinya bertentangan dengan surat pertama, lebih mendukung kaisar Qin, itulah alasan mengapa Fu Su, sang putra mahkota membencinya. Setelah Lu Buwei tiada, dia ditunjuk sebagai perdana menteri.

Zhao Gao (赵高), kasim dari Kaisar Qin. Orangnya lumayan cerdas, tapi "penjilat". Dia dan Li Si melakukan suatu konspirasi besar mengenai penerus kaisar Qin, mereka mengatur sedemikian rupa sehingga Huhai, putra ke-26 Qin Shihuang, yang masih muda dan intelektualnya lebih rendah dari putra mahkota Fu Su, menjadi kaisar berikutnya, padahal mandat kaisar Qin sebelum mangkat bahwa Fu Su seharusnya menjadi penerus kekaisaran Qin. Li Si takut dipenggal karena Fu Su tidak menyukai Li Si, sementara Zhao Gao takut ingin Huhai naik tahta sehingga dengan demikian statusnya ikut terangkat.


Fu Su (扶苏), putra mahkota kekaisaran Qin, yang seharusnya menjadi penerus Qin Shi Huang. Qin Shi Huang sendiri menganggap Fu Su hatinya terlalu lunak dan lemah. Sebenarnya dia bisa melakukan kudeta kekuasaan, tapi ada suatu peristiwa dimana dia dan Li Si saling berbicara setelah menerima mandat palsu (Isinya Pangeran Kedua yang menjadi penerus tahta, sementara Fu Su dihukum mati).Dia bertanya, bagaimana masa depan kekaisaran Qin ke depannya, dan Li si menjawab, "tidak akan ada lagi Dinasti Qin", akhirnya dia mati bunuh diri.

Lao Ai (嫪毐), pemain opera di Handan yang dekat dengan ibu suri Zhao (ibu Ying Zheng), yang kemudian dipromosikan oleh Lu Buwei menjadi menteri, dengan alasan diperbantukan ke ibu suri. 
Sayangnya, Lao Ai punya niat tersembunyi, termasuk perselingkuhannya dengan ibu suri. Dia melakukan pemberontakan pada saat Ying Zheng mengetahui skandal perselingkuhannya dengan ibusuri Zhao. Pemberontakannya gagal dan ia tertangkap, lalu ia mengakui pada Ying Zheng mengenai segalanya tentang perselingkuhan dengan ibusuri dan rahasia mengenai Lu Buwei adalah ayah biologis Ying Zheng.

Meng Tian (蒙恬), jenderal kesayangan Qin Shi Huang, berjasa besar dalam penaklukan 6 kerajaan, termasuk peperangan di utara melawan Mongolia. Sebenarnya, Fu Su bermaksud menjadikannya perdana menteri jika naik takhta. Ia turut dipaksa bunuh diri bersama Fu Su.

Li Mu (李牧), jenderal besar dari negeri Zhao, berhasil menggagalkan penyerangan negeri Qin, Qin Shi Huang sendiri sangat terkesan dengan kegagahan Li Mu. Negara Qin mengirim mata-matanya ke Zhao untuk menghasut Raja Zhao sehingga menyingkirkan Li dari jabatan komandan tertinggi. Li dibunuh tidak lama setelah dicabut dari jabatannya oleh orang-orang suruhan Raja Zhao. Setelah negeri Zhao kalah, namanya diabadikan menjadi nama suatu tempat.

Makam kaisar yang unik

Makam kaisar Tiongkok, Qin Shi Huang, disebut-sebut sebagai salah satu penemuan arkeologi terbesar abad ke-20. Sejarah mencatat, Qin Shi Huang merupakan kaisar pertama Dinasti Qin yang memimpin Tiongkok diantara periode 221 SM – 210 SM. Salah satu karya monumentalnya selain penyempurnaan konstruksi bangunan Tembok Besar China ialah pembangunan makam agungnya sendiri. Berbeda dengan Fir’aun Mesir Kuno, Cheops (Khufu) yang memilih untuk membangun sebuah Piramida Agung di Giza sebagai tempat peristirahatan terakhirnya, Kaisar Qin Shi Huang lebih memilih menjadikan makamnya bak sebuah Istana dengan penjagaan ribuan patung prajuritnya.

Makam sang kaisar memang begitu mempesona. Terdapat kurang lebih 8000 patung yang menggambarkan sosok para prajurit beserta kuda-kuda perang berdiri berjejer disepanjang makam. Yang lebih menarik lagi, semua patung-patung tersebut tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya baik itu bentuk pakaian, mimik wajah, model rambut, hingga persenjataan yang mereka bawa. Selain itu, mereka juga dibedakan oleh pangkat kemiliterannya seperti Jendral, perwira, hingga para prajurit biasa. Patung prajurit yang memiliki ukuran tubuh paling tinggi ialah yang berpangkat jendral.


Patung-patung yang disebut sebagai Prajurit Terracotta ini keselururuhan terbuat dari tanah liat yang dibentuk didalam cetakan. Tingginya pun bervariasi antara 183 – 195 cm. Untuk bagian kepala, dibuat secara terpisah dari bagian badan agar memiliki bentuk dan mimik wajah yang berbeda satu sama lain. Sementara bagian-bagian wajah seperti bibir, mata, dan telinga ditambahkan secara manual dan bentuknya disempurnakan oleh polesan tangan si pematung. Patung yang telah jadi kemudian dibakar agar dihasilkan konstruksi yang lebih keras dan kokoh. Untuk tahap akhir, dilakukan pengecatan walaupun kebanyakan patung kini catnya telah memudar.

Sejak ditemukan oleh beberapa petani lokal diwilayah Xi’an, Propinsi Shaanxi, China ditahun 1974 silam, hingga kini masih terus dilakukan penggalian di sana. Para Arkelog memperkirakan masih banyak patung dan artifak-artifak lainnya yang masih terpendam. Mereka juga belum dapat memastikan berapa jumlah angka-angka penemuan ini akan terus bertambah. Kalkulasi terbaru menyebutkan, terdapat lebih dari 8000 patung prajurit, 130 kereta perang beserta 520 kudanya, serta 150 pasukan berkuda yang terdapat di tiga terowongan utama makam. Sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan mengingat baru satu persen dari keseluruhan bagian makam yang telah digali!

Tidak semua harta benda dan perhiasan sang kaisar telah ditemukan. Konon, masih banyak harta benda berharga Kaisar Qin Shi Huang yang tersimpan disuatu bagian makam, dimana ditempat itu terpasang perangkap-perangkap yang dapat menembakkan anak panah secara otomatis kepada siapapun yang berani mengusiknya. Bahkan diyakini para pekerja yang memasang perangkap-perangkap tersebut turut dikuburkan hidup-hidup agar kerahasiannya tetap terjaga. Terdengar cukup menakutkan, bukan?‎

Menurut sejarawan Sima Qian (145 – 90 SM), pembangunan makam agung kaisar Qin Shi Huang dimulai disekitar 246 SM – disaat usia sang Kaisar baru menginjak 13 tahun – dengan memperkerjakan kurang lebih 700.000 pekerja. Namun apa tujuan Kaisar Qin Shi Huang membangun semua ini?

Faktanya, makam ini didirikan sebagai gambaran akan sebuah istana bawah tanah yang begitu besar dan mewah. Bahkan dikatakan ia adalah istana bawah tanah dengan struktur paling rumit dalam kemegahan dan fasilitasnya. Tiruan sungai yang terbuat dari air raksa serta langit-langit dengan hiasaan mutiara turut mempercantik istana. Kepercayaan di lingkungan kerajaan menyebutkan bahwa Kaisar Qin Shi Huang akan terus memimpin kerajaan dikehidupan berikutnya (alam baka/akhirat). Untuk itu ia membutuhkan sebuah istana sebagai pusat kerajaan, lengkap beserta para bala tentaranya dan pegawai-pegawai pemerintahan.‎